Jadwal UKK tahun ajaran 2011/2012 adalah sbb:
1. Kelas X atau disini
2. Kelas XI atau disini
Kalau masih binggung silahkan kirimkan email atau langsung ke SMK Negeri 3 Malang. Selamat berjuang dan semoga sukses buat semuanya
Seberat besi
Setinggi gunung
pasti bisa kulalui
jika aku berusaha
Kegagalan
bukan akhir dari segalanya
Keagagalan akan memotivasi untuk bisa
But that's semangat
Jika giat berusaha, berdoa,
semua akan terlampui
batu, kerikil merupakan teman
teman untuk mencapai kesuksesan
Sukses ada di depanku, ayo untuk diraih
Blog ini berisikan ilmu yang berhubungan dengan ilmu-ilmu akuntansi, ekonomi maupun IPS terpadu. semoga dapat bermanfaat bagi yang memerlukan.
A. Deskripsi Persediaan Produk Jadi
Persediaan barang jadi merupakan salah satu asset dalam perusahaan manufaktur, dimana cara perolehaanya dengan berproduksi. Maksudnya yaitu mengubah bahan baku menjadi barang jadi yang siap untuk dijual. Dalam proses produksi perusahaan telah mengkorbankan berbagai biaya antara lain biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik.
B. Metode Pencatatan Persediaan Barang Jadi
Ada 2 metode pencatatan persediaan:
· Metode Mutasi Persediaan (Perpetual Inventory Method)
Dalam metode ini, setiap mutasi persediaan dicatat dalam kartu persediaan.
· Metode Persediaan Fisik (Physical Inventory Method)
Dalam metode ini, hanya tambahan persediaan dari pembelian saja yang dicatat, sedangkan mutasi berkurangnya persediaan karena pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan. Untuk mengetahui berapa harga pokok persediaan yang dijual, harus dilakukan dengan perhitungan fisik sisa sediaan yang masih ada di gudang pada akhir periode akuntansi.
C. Prosedur Pencatatan Produk Jadi
· Deskripsi Prosedur
Dalam prosedur ini dicatat harga pokok produk jadi yang diterbitkan ke dalam rekening persediaan produk jadi dan dikreditkan ke dalam rekening barang dalam proses.
· Dokumen
v Laporan Produk Selesai
Digunakan bagian gudang untuk mencatat tambahan kuantitas produk jadsi dalam kartu gudang dan kartu barang.
Kartu gudang adalah kartu yang dipegang oleh bagian gudang untuk mencatat kuantitas fisik barang dan mutasi tiap jenis persediaan barang jadi yang disimpan digudang.
Kartu barang adalah kartu yang dicatat oleh bagian gudang yang ditempelkan pada tempat penyimpanan barang. Kartu ini berfungsi sebagai identitas barang yang disimpan, memudahkan pencarian barang dan sekaligus untuk mencatat mutasi kuantitas barang.
v Bukti Memorial
Digunakan untuk mencatat tambahan kuantitas dan harga pokok persediaan barang jadi dalam kartu persediaan barang jadi dan digunakan sebagai dokumen sumber dalam mencatat transaksi selesainya produk jadi dalam jurnal umum.
· Catatan Akuntansi
Catatan akuntansi yang digunakan dalam prosedur pencatatan produk jadi adalah kartu gudang, kartu barang, kartu persediaan dan jurnal umum.
· Bagan Alir Dokumen Prosedur Pencatatan Produk Jadi
Pencatatan harga pokok produk jadi dilakukan dengan mendebit rekening Persediaan Produk Jadi dan mengkredit rekening Barang dalam Proses. Di samping itu, kartu gudang yang diselenggarakan di fungsi gedung diisi dengan tambahan kuantitas persediaan produk jadi yang disimpan di gudang. Pada bagan alir di atas terlihat tambahan produk jadi yang dikirim oleh fungsi produksi ke fungsi gudang dicatat oleh Bagian Gudang di dalam kartu gudang berdasarkan laporan produk selesai yang diterima oleh Bagian Gudang dari Bagian Produksi. Harga pokok yang jadi ditransfer dari Baian Produksi ke Bagian Gudang dicatat oleh Bagian Kartu Persediaan dan Bagian Jurnal.
Pencatatan harga pokok produk jadi dilakukan oleh Bagian Kartu Persediaan berdasarkan produk selesai yang diterima oleh Bagian Kartu Persediaan dari Bagian Produksi. Berdasarkan laporan produk selesai tersebut, Bagian Kartu Persediaan menghitung harga pokok produk selesai berdasarkan data biaya produksi yang telah dikumpulan dalam kartu harga pokok produk pesanan yang bersangkutan. Total harga pokok produk ini dipakai sebagai dasar untuk membuat bukti memorial, yang merupakan dokumen sumber Bagian Kartu Persediaan untuk mencatat harga pokok produk selesai dalam kartu persediaan.
Bagian Jurnal mencatat harga pokok produk jadi di dalam jurnal umum berdasarkan bukti memorial yang dilampiri dengan dokumen pendukung berupa kartu harga pokok dan laporan produk selesai. Jurnal yang dibuat untuk mencatat harga pokok produk jadi adalah:
Persediaan Produk Jadi XX
Barang Dalam Proses XX
D. Prosedur Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi Yang Dijual
Deskripsi Prosedur
Prosedur ini merupakan salah satu prosedur dalam sistem penjualan di samping prosedur lainnya seperti: prosedur order penjualan, prosedur persetujuan kredit, prosedur pengiriman barang, prosedur penagihan, prosedur pencatatan piutang. Lihat kembali sistem penjualan kredit!
Dokumen
Dokumen sumber yang digunakan untuk mencatat transaksi penjualan produk jadi adalah surat order pengiriman dan faktur penjualan. Surat order pengiriman diterima oleh Bagian Gudang dari Bagian Order Penjualan. Setelah Bagian Gudang mengisi surat order pengiriman tersebut dengan kuantitas produk jadi yang diserahkan kepada Bagian Pengiriman, atas dasar surat order pengiriman tersebut Bagian Gudang mencatat kuantitas yang diserahkan ke Bagian Kartu Persediaan dalam kartu persediaan atas dasar tembusan faktur yang diterima oleh bagian tersebut dari Bagian Penagihan.
Catatan Akuntansi
Catatan akuntansi yang digunakan dalam prosedur pencatatan harga pokok produk jadi yang dijual adalah: kartu gudang, kartu persediaan, jurnal umum. Dalam prosedur pencatatan harga pokok produk jadi yang dijual, kartu gudang berfungsi untuk mencatat mutasi kuantitas persediaan produk jadi karena transaksi penjualan, sedangkan kartu persediaan berfungsi untuk mencatat mutasi kuantitas dan harga pokok persediaan produk jadi yang dijual. Jurnal umum digunakan untuk mencatat jurnal harga pokok produk jadi yang dijual untuk diposting ke dalam rekening kontrol Persediaan Produk Jadi.
Bagan Alir Dokumen Prosedur Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi yang Dijual
Bagan alir dokumen menggambarkan prosedur pencatatan harga pokok produk jadi yang dijual. Prosedur tersebut merupakan salah satu prosedur yang membentuk sistem penjualan kredit yang bagan alir dokumennya disajikan pada Gambar 2..
Pada Gambar 2 tersebut terlihat Bagian Kartu Persediaan secara periodik membuat rekapitulasi harga pokok produk yang dijual selama periode tertentu berdasarkan data yang direkam dalam kartu persediaan. Total harga pokok produk yang dijual selama periode tertentu yang dicantumkan dalam rekapitulasi harga pokok penjualan dan dipakai oleh bagian kartu perediaan untuk membuat bukti memorial. Berdasarkan bukti memorial yang dilampiri dengan rekapitulasi harga pokok penjualan. Bagian jurnal mencatat harga pokok produk yang dijual ke dalam jurnal umum dengan jurnal:
Harga Pokok Penjualan xxx
Persediaan Produk Jadi xxx
E. Prosedur Pencatatan Harga Pokok Produk JadiYang Diterima Kembali Dari Pembeli
Deskripsi Prosedur
Jika produk jadi yang telah dijual dikembalikan oleh pembeli, maka transaksi retur penjualan ini akan mempengaruhi persediaan produk jadi, yaitu menambah kuantitas produk jadi dalam kartu gudang yang diselenggarakan oleh bagian gudang dan menambah kuantitas dan harga pokok produk jadi yang dicatat oleh bagian kartu persediaan dalam kartu persediaan produk jadi. Dimana prosedur ini merupakan salah satu prosedur yang membentuk sistem retur penjualan.
Dokumen
· Laporan Penerimaan Barang
Digunakan oleh bagian gudang untuk mencatat kuantitas produk jadi yang diterima dari pembeli ke dalam kartu gudang dan kartu barang yang bersangkutan.
· Memo Kredit
Diterima dari bagian order penjualan yang digunakan oleh bagian kartu persediaan untuk mencatat kuantitas dan harga pokok produk jadi yang dikembalikan oleh pembeli ke dalam kartu persediaan.
Catatan Akuntansi
Catatan akuntansi yang digunakan:
· Kartu gudang
· Kartu barang
· Kartu persediaan
· Jurnal umum atau jurnal retur penjualan
Bagan Alir Dokumen Prosedur Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi yang Diterima Kembali dari Pembeli
Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi yang Diterima Kembali dari Pembeli
1. Melakukan pencatatan di kartu gudang dan kartu barang oleh bagian gudang, dengan menambah kuantitas persediaan produk jadi yang diterima kembali dari pembeli
2. Mencatat harga pokok produk jadi yang diterima kembali dari pembeli dan kuantitasnya dicatat dalam kartu persediaan barang jadi oleh bagian kartu persediaan barang jadi berdasarkan memo kredit.
3. Mencatat harga pokok produk jadi yang diterima kembali dari pembeli dicatat oleh jurnal berdasarkan memo kredit yang dilampiri bukti pendukung (Laporan penerimaan barang). Jurnal yang dibuat adalah:
Persediaan Produk Jadi xxx
Harga Pokok Penjualan xxx
Pada suatu hari abu nawas menghadap ke Istana. Ia pun bercakap-cakap dengan Sultan dengan riang gembira. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran di benak Sultan. “Bukankah Ibu si abu nawas ini sudah meninggal? Aku ingin mencoba kepandaiannya sekali lagi, Aku ingin menyuruh dia membawa ibunya ke istanaku ini. Kalau berhasil akan aku beri hadiah seratus dinar.
“Hai, abu nawas,” titah Sultan, “Besok bawalah Ibumu ke istanaku, nanti aku beri engkau hadiah seratus dinar.”
Abu Nawas kaget. “Bukankah beliau sudah tahu kalau ibuku sudah meninggal, tapi mengapa beliau memerintahkan itu,” pikirnya. Namun dasar abu nawas, ia menyanggupi perintah itu. “Baiklah, tuanku, esok pagi hamba akan bawa ibu hamba menghadap kemari,” jawabnya mantap. Setelah itu ia pun mohon diri.
Sesampai di rumah, setelah makan dan minum, ia pergi lagi. Dijelajahinya sudut-sudut negeri itu, menyusuri jalan, lorong dan kampung, untuk mencari seorang perempuan tua yang akan dijadikan sebagai ibu angkat. Rupanya tidak mudah menemukan sesosok perempuan tua. Setelah memeras tenaga mengayun langkah kesana kemari hingga jontor, barulah ia menemukan yang dicari. Perempuan itu adalah seorang pedagang kue apem di pinggir jalan yang sedang memasak kue-kue dagangannya. Dihampirinya perempuan tua itu.
“Hai, ibu, bersediakah engkau kujadikan ibu angkat?” kata abu nawas.
“Kenapa engkau berkata demikian?” tanya si Ibu tua itu. “Apa alasannya?”
Maka diceritakanlah perihal dirinya yang mendapat perintah dari Sultan agar membawa ibunya ke istana. Padahal ibunya sudah meninggal. Juga dijanjikan akan membagi dua hadiah dari Sultan yang akan diterimanya. “Uang itu dapat ibu simpan untuk bekal meninggal bila sewaktu-waktu dipanggil Tuhan,” kata abu nawas.
“Baiklah kata si Ibu tua itu, aku sanggup memenuhi permintaanmu itu.”
Setelah itu abu nawas menyerahkan sebuah tasbih dengan pesan agar terus menghitung biji tasbih itu meskipun di depan Sultan, dan jangan menjawab pertanyaan yang diajukan. Sebelum meninggalkan perempuan itu, abu nawas wanti-wanti agar rencana ini tidak sampai gagal. Untuk itu ia akan menggendong perempuan tua itu ke istana.
“Baiklah anakku, moga-moga Tuhan memberkatimu,” Kata si ibu tua.
“Dan terutama kepada Ibuku…”
Keesokan harinya pagi-pagi sekali abu nawas sudah sampai di istana lalu memberikan salam kepada Sultan.
“Waalaikumsalam, abu nawas,” jawab Sultan. Setelah itu Sultan memandang abu nawas. Bukan main terkejutnya Sultan melihat abu nawas menggendong seorang perempuan tua. “Siapa yang kamu gendong itu?” tanya Sultan. “Diakah ibumu?” tapi kenapa siang begini kamu baru sampai?”
“Benar, tuanku, inilah ibu Patik, beliau sudah tua dan kakinya lemah dan tidak mampu berjalan kemari, padahal rumahnya sangat jauh. Itu sebabnya patik gendong ibu kemari,” kata abu nawas sambil mendudukkan ibu tua di hadapan Sultan.
Setelah duduk ibu tua itu pun memegang tasbih dan segera menghitung biji tasbih tanpa henti meski Sultan mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya. Tentu saja Sultan tersinggung, “Ibumu sangat tidak sopan, lagi pula apa yang dikatakannya itu sampai tidak mau berhenti?”
Sembah abu nawas, “Ya tuanku Syah Alam, suami ibu patik ini 99 banyaknya. Beliau sengaja menghafal nama-nama mereka satu persatu, dan tidak akan berhenti sebelum selesai semuanya.”
Seratus Dinas
Demi mendengar ucapan abu nawas tadi perempuan tua itu pun melempar tasbih dan bersembah datang kepada Sultan. “Ya tuanku Syah Alam,” katanya, “Adapun patik ini dari muda sampai tua begini hanya seorang suami hamba. Apabila sekarang ini berada di hadapan tuanku, itu adalah atas permintaan abu nawas. Dia berpesan agar patik menghitung-hitung biji tasbih dan tidak menjawab pertanyaan tuanku. Nanti abu nawas akan membagi dua hadiah yang akan diterimanya dari tuanku.”
Begitu mendengar ucapan perempuan tua itu Sultan tertawa dan menyuruh memukul abu nawas seratus kali. Ketika perintah itu akan dilaksanakan, abu nawas minta izin untuk dipertemukan dengan Sultan. “Ya tuanku, hukuman apakah yang akan tuanku jatuhkan kepada hamba ini?”
“Karena engkau berjanji kepadaku akan membawa ibumu kemari, akupun berjanji akan memberi hadiah uang seratus dinar, tapi karena kamu tidak bisa memenuhi janjimu, dapatlah engkau seratus kali pukulanku,” kata Sultan.
“Ya tuanku, Syah Alam,” kata abu nawas, “Patik berjanji dengan perempuan tua ini akan membagi dua hadiah yang akan tuanku berikan kepada hamba, tetapi karena sekarang hamba mendapat dera, hadiah itu juga harus dibagi dua, karena yang bersalah dua orang, patik terimalah hukuman itu, tetapi lima puluh seorang dengan perempuan tua ini.”
Dalam hati Sultan bergumam, “Jangankan dipukul lima puluh kali, dipukul sekali saja perempuan tua ini tidak akan mampu berdiri.” Setelah itu Sultan memberi lima puluh dinar kepada perempuan tua itu sambil berpesan agar tidak cepat percaya kepada abu nawas bila lain kali menemuinya. Dengan suka cita diterimanya hadiah itu dan dipandangnya abu nawas.
“Ya tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun, jika ibuku telah mendapat anugerah dari paduka, tidak adil kiranya bila anaknya ini dilupakan begitu saja.”
“Hmm…ya, terimalah pula bagianmu,” ujar baginda sambil tersenyum, “Ini…”
Semua orang tertawa dalam hati. Setelah abu nawas bermohon diri pulang ke rumah. Demikian pula perempuan tua itu dan semua yang hadir di Balairung, dengan perasaan masing-masing.

